Fitnah Cinta Dan Perbedaan (bag. 1/3)

:Untuk jiwa-jiwa yang memperjuangkan rasa suci dan mereka yang tak bisa memaknai perbedaan.
Bukan hal baru jika terjadi semacam perang dingin antara dua organisasi besar Islam di Indonesia, NU dan Muhammadiyah. Seolah sudah menjadi sebuah tradisi yang diwariskan secara turun-temurun pergolakan ini terus tertanam kepada para generasi dari kubu masing masing. Entah juga sejak kapan konflik dingin ini dimulai, NU atau Muhammadiyah kah yang memulai? Saking sudah lazimnya perbedaan di antara mereka, sampai-sampai di pelosok-pelosok desa pun terselip perdebatan-perdebatan hangat seputar perbedaan mereka, bahkan bisa dibilang lebih panas pergolakan di desa atau di kalangan bawah dari pada di kalangan atas sendiri. Ini karena kurangnya dasar agama dan terlalu kakunya cara berpikir dari segolongan individu yang seakan-akan menganggap masalah-masalah furu' yang membedakan NU dan Muhammadiyah adalah masalah yang sudah qoth'i.
Begitu pun yang terjadi di sebuah desa yang dikelilingi perbukitan lebat berhias pepohonan rindang menghijau. Siapa yang menyangka di desa yang tampak damai ada sebuah semacam pergolakan abadi antara dua kubu tersebut semenjak berdirinya sebuah pondok pesantren berbasis Muhammadiyah yang beberapa tahun sebelumnya telah berdiri pula pondok pesantren di bawah naungan NU. Namun siapa lagi yang menyangka di antara mereka itu ada yang saling terpaut hatinya, yang saling merindu—menahan gejolak keinginan jiwa mereka untuk bersatu dalam satu ikatan halal. Tapi sayang, mereka berbeda aliran, antara NU dan Muhammadiyah.
*** 
"Bagaimana kabarnya, Dek?"
"Baik, Mas. Mas sendiri?"
"Ya, sama, udah lama kita nggak ketemu, ya?"
"Iya, Adek kangen, Mas."
"Hm, Mas juga, Dek."
Sejenak kemudian mereka saling diam memandang indah perbukitan di hadapan mereka. Memang, di tempat itulah mereka saling bertemu. Setelah berusaha keluar dan berhasil menyelinap tanpa ada santri-santri ayah mereka yang mengikuti. Walaupun begitu, mereka tak pernah macam-macam. Mereka sengaja bertemu di tempat itu karena mereka takut kalau ayah mereka marah jika melihat mereka berdua bertemu apalagi sampai tahu kalau ternyata mereka sudah menjalin hubungan yang disembunyikan sejak dua tahun lalu.
"Sampai kapan ya Mas, kita sembunyiin hubungan kita ini?"
"Entahlah, Dek, Mas sendiri juga bingung."
"Apa salah sih Mas, kalau kita saling menyayangi, Walau aku ini orang Muhammadiyah dan Mas orang NU?"
"Kalau menurutku sih, tidak, Dek." Jawab Ahyar singkat. Ia juga bingung mau menjawab gimana lagi pertanyaan Azkya, gadis Muhammadiyah yang membuatnya jatuh cinta saat mata mereka saling bertemu ketika tak sengaja ia menabrak Azkya di pasar kampungnya hingga terjatuh, lalu sejenak mata mereka saling bertemu. Semenjak itulah ia mulai penasaran dengan Azkya, hingga ahirnya ia kirimkan surat yang dititipkan lewat seorang anak kecil Muhammadiyah kepada Azkya untuk mengajaknya bertemu lagi di pasar. Hingga ahirnya mereka menjalin hubungan dan sering bertemu di tempat ini untuk sejenak melepas rindu, walau hanya saling bertanya kabar tanpa pernah mata mereka saling bertatap.
"Tidak salah jika kita saling menyayangi Dek, biarpun aku orang NU dan kamu orang Muhammadiyah. Walau aku adalah putra Kyai Ma'shum, pengasuh pondok NU yang juga pembesar NU di kampung ini, walau kamu putri Kyai Dahlan, seorang Kyai pembesar Muhammadiyah yang juga memimpin pondok pesantren berbasis Muhammadiyah di kampung ini."
Azkya hanya diam mendengar laki-laki di sampingnya yang terus berbicara, laki-laki yang ia kenal lewat tabrakan yang tak disengaja dua tahun yang lalu, yang ia juga tak menyangka kalau dia adalah putra mahkota seorang Kyai NU di kampungnya. Namun apalah itu, cinta takkan mempedulikannya. Dan betapapun besarnya rintangan, takkan menggoyahkan orang yang sudah dirasukinya. Karena bagaimanapun cinta adalah sebuah anugerah dari Tuhan selagi itu tak membuat orang yang dirasukinya melanggar syara'.
"Aku sendiri juga bingung." Ahyar melanjutkan.
"Kenapa masing-masing dari kubu kita seakan saling berebut pengaruh di kampung ini? Kenapa juga seolah-olah perbedaan di antara kita menjadi penyekat yang kadang justru merenggangkan tali ukhuwah islamiyah di kampung ini?"
Azkya hanya mengangguk mengiyakan apa yang dikatakan orang yang dikasihnya tersebut. Dan hanya menjawab pendek. “Aku juga tak tahu, Mas.”
"Padahal kan perbedaan itu Rahmat. Selagi itu tak keluar dari tuntunan syara' dan tak menyangkut perbedaan pada masalah-masalah yang sudah qhot'i."
Lagi lagi Azkya hanya mengangguk. Jujur, ia kagum pada pemuda pujaannya ini, cara berpikirnya beda dengan pemuda-pemuda atau orang-orang lain di kampungnya yang seolah menganggap perbedaan pada masalah furu' menjadi sebuah momok untuk menghadirkan perbedaan yang mencolok. Bahkan ada yang saling mengkafir-kafirkan! Ia kagum karena Ahyar tak mudah terpengaruh dengan cara berpikir orang di sekitarnya yang bisa dibilang terlalu keras dalam berpikir. Ah, entahlah. Baginya, Ahyar adalah sosok yang sempurna. Ahyar juga cinta pertama baginya. NU atau Muhammadiyah baginya juga tak begitu penting. Toh perbedaan di antara mereka hanyalah pada masalah furu'iyah saja. Yang tentunya juga ada dalil-dalil untuk menjadi dasar atas pendapat yang berbeda.
"Ah, sudahlah. Lagi pula itu semua takkan merubah perasaanku terhadapmu, Dek."
"Begitu pun aku, Mas."
"Sudah sore, Dek. Sebaiknya kamu pulang. Nanti malah dicari Ayahmu lagi kalau kelamaan keluar dari rumah.”
"Ya sudah, kalau begitu aku pulang ya Mas?"
"Iya, hati hati!"
"Iya. Mas juga ya, Assalamu'alaikum…"
"Waalaikumussalam…"
Secepat kilat sepasang mata yang sedari tadi mengawasi mereka melangkah mundur dan berlari di semak-semak.
Begitulah pula, cara mereka melepas kerinduan, ngobrol-ngobrol, seputar apa yang terjadi di kampung mereka, di pondok mereka masing-masing, dan terkadang tentang masa depan yang mereka impikan, hidup bahagia dalam ikatan halal nan suci tanpa pertemuan yang sembunyi-sembunyi, tanpa ada rasa takut akan ada orang yang menentang bahkan melarang hubungan meraka.

0 komentar:

Posting Komentar