:Untuk jiwa-jiwa yang memperjuangkan rasa suci
dan mereka yang tak bisa memaknai perbedaan.
Bukan hal baru
jika terjadi semacam perang dingin antara dua organisasi besar Islam di Indonesia,
NU dan Muhammadiyah. Seolah sudah menjadi sebuah tradisi yang diwariskan secara
turun-temurun pergolakan ini terus tertanam kepada para generasi dari kubu
masing masing. Entah juga sejak kapan konflik dingin ini dimulai, NU atau
Muhammadiyah kah yang memulai? Saking sudah lazimnya perbedaan di antara
mereka, sampai-sampai di pelosok-pelosok desa pun terselip perdebatan-perdebatan
hangat seputar perbedaan mereka, bahkan bisa dibilang lebih panas pergolakan di
desa atau di kalangan bawah dari pada di kalangan atas sendiri. Ini karena
kurangnya dasar agama dan terlalu kakunya cara berpikir dari segolongan
individu yang seakan-akan menganggap masalah-masalah furu' yang membedakan NU
dan Muhammadiyah adalah masalah yang sudah qoth'i.
Begitu pun yang
terjadi di sebuah desa yang dikelilingi perbukitan lebat berhias pepohonan
rindang menghijau. Siapa yang menyangka di desa yang tampak damai ada sebuah
semacam pergolakan abadi antara dua kubu tersebut semenjak berdirinya sebuah
pondok pesantren berbasis Muhammadiyah yang beberapa tahun sebelumnya telah
berdiri pula pondok pesantren di bawah naungan NU. Namun siapa lagi yang
menyangka di antara mereka itu ada yang saling terpaut hatinya, yang saling
merindu—menahan gejolak keinginan jiwa mereka untuk bersatu dalam satu ikatan
halal. Tapi sayang, mereka berbeda aliran, antara NU dan Muhammadiyah.
***
"Bagaimana
kabarnya, Dek?"
"Baik, Mas.
Mas sendiri?"
"Ya, sama,
udah lama kita nggak ketemu, ya?"
"Iya, Adek
kangen, Mas."
"Hm, Mas
juga, Dek."
Sejenak
kemudian mereka saling diam memandang indah perbukitan di hadapan mereka. Memang,
di tempat itulah mereka saling bertemu. Setelah berusaha keluar dan berhasil
menyelinap tanpa ada santri-santri ayah mereka yang mengikuti. Walaupun begitu,
mereka tak pernah macam-macam. Mereka sengaja bertemu di tempat itu karena
mereka takut kalau ayah mereka marah jika melihat mereka berdua bertemu apalagi
sampai tahu kalau ternyata mereka sudah menjalin hubungan yang disembunyikan sejak
dua tahun lalu.
"Sampai
kapan ya Mas, kita sembunyiin hubungan kita ini?"
"Entahlah,
Dek, Mas sendiri juga bingung."
"Apa salah
sih Mas, kalau kita saling menyayangi, Walau aku ini orang Muhammadiyah
dan Mas orang NU?"
"Kalau
menurutku sih, tidak, Dek." Jawab Ahyar singkat. Ia juga bingung
mau menjawab gimana lagi pertanyaan Azkya, gadis Muhammadiyah yang
membuatnya jatuh cinta saat mata mereka saling bertemu ketika tak sengaja ia
menabrak Azkya di pasar kampungnya hingga terjatuh, lalu sejenak mata mereka
saling bertemu. Semenjak itulah ia mulai penasaran dengan Azkya, hingga ahirnya
ia kirimkan surat yang dititipkan lewat seorang anak kecil Muhammadiyah kepada Azkya
untuk mengajaknya bertemu lagi di pasar. Hingga ahirnya mereka menjalin
hubungan dan sering bertemu di tempat ini untuk sejenak melepas rindu, walau
hanya saling bertanya kabar tanpa pernah mata mereka saling bertatap.
"Tidak
salah jika kita saling menyayangi Dek, biarpun aku orang NU dan kamu orang
Muhammadiyah. Walau aku adalah putra Kyai Ma'shum, pengasuh pondok NU yang juga
pembesar NU di kampung ini, walau kamu putri Kyai Dahlan, seorang Kyai pembesar
Muhammadiyah yang juga memimpin pondok pesantren berbasis Muhammadiyah di kampung
ini."
Azkya hanya
diam mendengar laki-laki di sampingnya yang terus berbicara, laki-laki yang ia
kenal lewat tabrakan yang tak disengaja dua tahun yang lalu, yang ia juga tak
menyangka kalau dia adalah putra mahkota seorang Kyai NU di kampungnya. Namun
apalah itu, cinta takkan mempedulikannya. Dan betapapun besarnya rintangan,
takkan menggoyahkan orang yang sudah dirasukinya. Karena bagaimanapun cinta
adalah sebuah anugerah dari Tuhan selagi itu tak membuat orang yang dirasukinya
melanggar syara'.
"Aku
sendiri juga bingung." Ahyar melanjutkan.
"Kenapa
masing-masing dari kubu kita seakan saling berebut pengaruh di kampung ini? Kenapa
juga seolah-olah perbedaan di antara kita menjadi penyekat yang kadang justru
merenggangkan tali ukhuwah islamiyah di kampung ini?"
Azkya hanya
mengangguk mengiyakan apa yang dikatakan orang yang dikasihnya tersebut. Dan
hanya menjawab pendek. “Aku juga tak tahu, Mas.”
"Padahal kan
perbedaan itu Rahmat. Selagi itu tak keluar dari tuntunan syara' dan tak
menyangkut perbedaan pada masalah-masalah yang sudah qhot'i."
Lagi lagi Azkya
hanya mengangguk. Jujur, ia kagum pada pemuda pujaannya ini, cara berpikirnya
beda dengan pemuda-pemuda atau orang-orang lain di kampungnya yang seolah
menganggap perbedaan pada masalah furu' menjadi sebuah momok untuk menghadirkan
perbedaan yang mencolok. Bahkan ada yang saling mengkafir-kafirkan! Ia kagum karena
Ahyar tak mudah terpengaruh dengan cara berpikir orang di sekitarnya yang bisa
dibilang terlalu keras dalam berpikir. Ah, entahlah. Baginya, Ahyar adalah
sosok yang sempurna. Ahyar juga cinta pertama baginya. NU atau Muhammadiyah baginya
juga tak begitu penting. Toh perbedaan di antara mereka hanyalah pada
masalah furu'iyah saja. Yang tentunya juga ada dalil-dalil untuk menjadi dasar
atas pendapat yang berbeda.
"Ah, sudahlah.
Lagi pula itu semua takkan merubah perasaanku terhadapmu, Dek."
"Begitu pun
aku, Mas."
"Sudah
sore, Dek. Sebaiknya kamu pulang. Nanti malah dicari Ayahmu lagi kalau kelamaan
keluar dari rumah.”
"Ya sudah,
kalau begitu aku pulang ya Mas?"
"Iya, hati
hati!"
"Iya. Mas
juga ya, Assalamu'alaikum…"
"Waalaikumussalam…"
Secepat kilat sepasang
mata yang sedari tadi mengawasi mereka melangkah mundur dan berlari di semak-semak.
Begitulah pula, cara
mereka melepas kerinduan, ngobrol-ngobrol, seputar apa yang terjadi di kampung
mereka, di pondok mereka masing-masing, dan terkadang tentang masa depan yang
mereka impikan, hidup bahagia dalam ikatan halal nan suci tanpa pertemuan yang
sembunyi-sembunyi, tanpa ada rasa takut akan ada orang yang menentang bahkan
melarang hubungan meraka.
0 komentar:
Posting Komentar