Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Peperangan Dua Hati


               “ Cepat selesaikan salatmu!masih banyak kewajiban yang harus segera kau kerjakan!.” Seru hati besarku.
                “ Tunggu dulu. Khusyu’kanlah salatmu. Jangan tergesa-gesa. Ingat Allah. Andai saja kau memang salat berjamaah dan kau menjadi imam maka sunnah bagimu untuk sedikit mempercepat salatmu. Karena diantara makmummu ada yang ingin segera memenuhi hajatnya. Tapi kali ini kau salat sendirian. Jangan kau biarkan sedetikpun tanpa mengingat-Nya.” Hati kecil mencoba menenangkan salatku.
                “ Jangan dengarkan dia. Bukankah sudah setiap hari kau salat.? Ada banyak tugas, tanggung jawab dan pekerjaan yang harus segera kau selesaikan diluar salat. Itu yang harus kau pikirkan. Cepatlah!”
                “ Jangan terburu-buru. Masih ada banyak waktu untuk memikirkan itu semua. Paling lama salat khusyu’ juga sepuluh menit.”
                Hah, aku sampai lupa pada bilangan raka’at salatku. Sudah berapa rakaatkah aku salat.? Ini gara-gara mereka yang selalu berdebat dengan pendapat mereka masing-masing. Anehnya lagi aku selalu mendengar ribut perdebatan mereka. Padahal aku sudah menutup rapat-rapat telingaku ini. Apa kalian mendengarnya.?
                Kembali ku khusyu’kan salatku. Setelah sebelumnya aku tergoda akan was-was yang ditiupkan syaitan lewat hati besarku. Lebih dari separo salatku sudah dikuasainya. Kupalingkan kepalaku kekanan dan kekiri mengucap salam. Kulantunkan dzikir memohon ampun pada-Nya.
                “ Sudah! Jangan terlalu lama. Lihat handphonemu. Ada banyak sms masuk. Segera buka!.” Hati besarku berbisik lagi.
                Astaghfirullahal’adzim, astaghfirullahal’adzim.” Hati kecilku menuntunku untuk mengucap istighfar.
                Tak terasa mulutku bergerak dengan sendirinya, mengikuti tuntuna suara hati kecilku.
                Hey, buka handphonemu! Bukalah, ada banyak sms yang menumpuk di inboxmu.” Hati besarku berteriak.
Seketika mulutku berhenti. Dengan refleks, tanganku menyambar handphone yang kuletakkan diatas meja dipojok ruangan.
                “ Kawan.! Sudahlah, paling juga sms dari teman-temanmu yang mengucapkan selamat malam.” Hati kecilku berkata lagi.
                “ Diam kau. Lancang sekali kau sedari tadi selalu melawan apa kataku.” Teriak hati besarku mengancam si hati kecil.
                Aku merasa iba mendengar itu. Kasihan sekali hati kecilku. Jarang sekali aku menurutinya. Aku juga jarang membelanya. Bahkan bisa dibilang aku tak pernah membela sepenuhnya. Disetiap harinya aku hanya mendengar perdebatan dan peperangan diantara mereka. Dan tanpa kusadari, begitu sering aku membela hati besarku dan ikut menyakiti hati kecilku.. apa kata hati besarku selalu aku iyakan.
                Aku terduduk. Sekarang aku akan mencoba benar-benar mendengarkan dan memahami apa yang akan mereka perdebatkan hari ini.
                “ Kawan. Belalah aku.sudah kecil, lemah, masih saja kau tak pernah bersungguh dalam membelaku. Aku masih  selalu saja kau kalahkan dengan hati besarmu. Tak pernahkah sepintas dibenakmu terbesit untuk membelaku.?” Hati kecilku mulai berbicara.
                  Ketahuilah, hati besar telah banyak merugikanmu. Menyia-nyiakan sekian juta detik kehidupanmu. Waktumu terbuang sia-sia karena menurutinya. Andai saja kau lebih banyak mendengarkanku, menuruti  apa yang aku katakan. Mungkin banyak sudah mimpimu yang telah kau raih. Ada banyak keburukan yang menunggangi hati besar. Tapi tidak dengan aku. Aku benar-benar murni dari apa yang menungganginya. Keburukan takkan mampu menguasai kemurnian ilhamNya lewat diriku.”
“ Dan mengertilah, Tuhan menciptakanku lemah pada bagian hatimu. Banyak bagian yang dikuasai hati besar pada hatimu. Aku bisa mengalahkannya dengan kekuatan tekadmu. Bahkan, aku bisa saja membunuhnya dengan kesungguhanmu membelaku. Biar dia tak lagi meracuni hidupmu. Sekali lagi, mengertilah!, lebih dari separo dari hati besar telah dikuasai nafsu duniawimu.”
Aku tak bisa menghentikan hati kecilku yang terus saja nyerocos. Ia sudah muak, benar-benar muak dengan sikapku yang tak pernah besungguh-sungguh membelanya.
“ Jangan dengarkan dia kawan. Tapi dengarkanlah aku. Bukankah banyak sudah kesuksesan yang kau raih bersumber dari ide ide brilianku. Banyak kesenangan kesenangan yang kau peroleh berkat diriku. Hati kecilmu berdusta tentang kemurnian dirinya. Banyak tempat yang Tuhan ciptakan untukku dihatimu sudahlah cukup menjadi bukti bahwa akulah yang diciptakan Tuhan untuk membimbing umat manusia.” Bela hati besarku.
Sudah sudah! Cukup!. Aku tak tahan mendengar perdebatan kalian. Apa setiap harinya aku harus selalu merasakan peperangan dalam jiwaku.? Aku muakdengan ini semua. Aku benci dengan pilihan yang selalu kalian tawarkan disetiap langkahku. Biarkan aku memilih pilihanku sendiri. Aku tak butuh kalian.
“ Tidak bisa kawan. Hati diciptakan untuk membimbing umat manusia. Hati adalah indera batin yang paling peka. Hati diciptakan tuk menyebarkan kedamaian dimuka bumi. Kasih sayang, cinta juga ketenangan adalah berasal dxari hati. Hatilah yang membuatmumerasakan cinta. Mencinta juga dicintai. Kau takkan mampu memilih tanpa hatimu.”
“ Benar , itu benar!.” Timpal hati besarku.
Baru kali ini kudengar mereka sependapat.
Tidak, aku masih punya akal pikir. Aku juga masih punya nalar untuk enentukan pilihanku. Langkahku takkan berhenti tanpa kalian.
“Benar, kau memang mempunyai akal. Kau juga mempunyai nalar. Tapi, akal yang bersih, nalar yang jernih juga bersumber dari hati yang bersih. Karena itu , dengarkan apa kataku. Akulah hati yang benar benar bersih lagi jernih tanpa nafsu yang yang dikendalikan syaithan. Kendaliku adalah kendali illahiyah. Nur-Nya lah yang menyinariku. Nafsu takkan mampu menguasaiku.” Bisik hati kecilku lembut.
“ Ow, tidak bisa! Hati besarlah yang berkuasa lagi menguasai. Hati besarlah yang selalu mengatur otak umat manusia. Akulah yang akan dimenangkan sekian banyak manusia.hati besar yang akan selalu menang. Akulah yang menang. Ha ha ha!.” Hati besarku tertawa menyombongi hati kecilku.
“ Apapun yang terjadi, dengarkanlah hati kecilmu kawan. Aku selalu mengatakan yang benar lagi hak.semua yang kukatakan adalah sudah berada dalam ketentuan Allah. Akulah yang selalu memberimu peringatan dikala kau di ambang batas.hati besarlah yang justru akan mendorongmu kejurang kenistaan.”
“ Namun, jika benar kau takkan mendengarkanku lagi, tak ada lagi kesungguhanmu untukku. Mungkin saja, aku akan mati kelelahan mengingatkanmu. Aku takkan lagi memberi cahaya yang bersumber dari nur-Nya. Tak lagi memberi solusi solusi illahiyah dalam hidupmu.”
“ Dari pada kau mendengarkan dia. Lebih baik kau tidur kawan. Kau lelah bukan.?” Hati besarku tiba tiba memotong perkataan hati kecilku.
Benar, aku lelah. Maaf hati kecilku, aku harus tidur. Aku berjanji besok akan kudengarkan semua keluhmu.
Namun, setelahnya aku tak pernah lagi mendengarkan suara hati kecilku. Yang kudengar hanya hati besarku yang berkoar koar disetiap harinya menguasai pikiranku.kini aku tak tau kemana hilangnya hati kecilku. Setiap hariku hanyalah kebatilan yang kulakukan. Hati kecilku benar. Tapi kemana dia? Apa dia sudah benar benar mati.? Hati kecilku telah mati.
Begitulah, bukan hanya pada diriku. Hal ini, peperangan dua hati selalu terjadi pada setiap individu umat manusia. Dan disetiap peperangan pasti ada yang menang. Hati besar akan menang pada jiwa jiwa yang lemah. Begitu juga, hati kecil akan berkuasa pada jiwa jiwa yang kuat memerangi nafsunya.

Oleh: Samarkand.

Bersama Lagi




Setelah acara perpisahan selesai, Lia dan Dani berjanji pergi ke pantai bersama. Hanya berdua.
“Hai, alhamdulillah ya! Akhirnya kita lulus. Masa putih abu-abu sudah berakhir,” kata Dani sambil melingkarkan tangannya ke tubuh Lia.
“Hemm, iya! Gak nyangka ya, terasa cepet banget!” jawab Lia sambil memegang tangan Dani.
“Setelah ini kamu tetep nglanjutin kuliah di sini ya Yang?” lanjut Lia.
Dani melepas pelukannya. Terlihat ada beban di raut wajahya.
“Kayaknya iya. Kamu? Jadi pindah ke luar Jawa?” tanya Dani. Lia mendesah. Tampaknya dia berat bila melanjutkan kuliah tanpa Dani.
“Gak tahu lah Yang. Mungkin,” jawab Lia singkat.
“Oh, ya, kamu bener mau mulai menghafal Al-Qur’an?” tanya Lia yang semakin membuat muka Dani kusut. Dani menganggut.
“Aku pengen jadi seorang hafidz,” tuturnya.
Lia memandang ke arah lautan luas. Banyak bayang-bayangnya ke depan; tentang masa depannya—bersama Dani.
“Kamu gak pengen ikutan hafalan juga Yang?” tanya Dani. Lia hanya diam tak menjawab. Dani memeluknya, lantas menciumnya.
“Mungkin ini peluk dan ciuman yang terakhir Yang. Setelah ini aku bener-bener harus menjaga sentuhanku. Setelah ini aku ingin berubah menjadi orang yang lebih baik. Aku yakin, nanti aku akan memeluk-menciummu lagi saat kamu bener-bener halal untukku!”
Dani melepaskan pelukannya. Perlahan salju-salju di mata indah Lia meleleh ia terharu. Dalam hatinya ia berjanji bahwa ia juga akan menjaga semuanya demi Dani. Ia juga ingin ikut jejak Dani.
Mereka lantas pulang.
***
Dani benar-benar bingung. Ia tak tahu harus bagaimana. Ia sudah bertanya pada kakak-kakak Lia juga teman-temannya tentang keadaan Lia. Tapi mereka semua bilang tak tahu. Lia tiba-tiba saja menghilang tanpa ada kabar. Berkali-kali Dani mencoba menghubungi nomor Lia. Tapi tidak aktif.
“Mana mungkin Lia tega ninggalin aku?” Dani membatin.
Setelah satu bulan Dani mencari-cari tentang Lia, akhirnya ia putus asa. Semangatnya telah hilang. Tapi tidak dengan rasanya pada Lia.
“Ah, ya sudahlah. Pergi-pergi saja sana! Kalau memang jodoh pasti kembali.”
Akhirnya Dani memulai hafalannya tanpa ada penyemangat terbesarnya. Dan dengan susah payah akhirnya Dani bisa menyelesaikannya dengan waktu 2 tahun setengah.
***
Tak terasa 4 tahun berlalu. Dani telah menyelesaikan hafalannya setahun setengah yang lalu. Dan hari ini adalah wisuda sarjananya. Hari yang bersejarah tentunya. Orang tuanya datang jauh-jauh untuk melihatnya di wisuda. Namun terasa ada yang kurang bagi Dani tanpa kehadiran Lia yang tiba-tiba menghilang 4 tahun yang lalu.
Sungguh itu menjadi kenangan yang pahit baginya.
Setelah acara selesai, Dani langsung menghampiri orang tuanya. Ia hamburkan peluk pada mereka.
“Alhamdulillah, akhirnya anak kita sudah sarjana ya Pak,” kata ibunya membanggakan. Ayahnya hanya tersenyum.
“Mulai sekarang tanggung jawabmu tambah besar Le. Kamu sebagai laki-laki harus tangguh untuk menghadapi masa depanmu.” Kata ayahnya memberikan motivasi.
“Enggeh,” kata Dani takzim.
Dani menghampiri teman-temannya yang berada tidak jauh dari Dani.
“Woi, sarjana baru!” kata Dani sambil memukulkan topi wisudanya ke Toni.
“Hahaha. Ah bisa saja bapak sarjana bahasa Inggris ini.” Toni balas meledek.
Mereka menyebar gelak tawa bersama. Membuat orang yang lewat di sekitarnya hanya menggeleng melihat tingkah mereka.
“Wah wah wah, sudah sarjana kok masih saja kelakuannya tidak berubah.” Kata Pak Joko, Dosen pembimbing skripsi Dani.
“Eh, Pak Joko. Ya maklumlah Pak! Namanya juga sarjana baru.” Dani membela diri. Toni hanya tersenyum.
Saat Dani sedang asyik berbincang-bincang dengan Pak Joko, tiba-tiba pandangannya menabrak sepasang bola mata teduh seorang gadis. Gadis yang anggun dengan jilbab besarnya. Dan pancaran qur’ani terpancar dari jiwanya. Dani merasa tak asing dengan paras itu. Ia pandang lekat-lekat.
“Oh, ternyata—” Dani hampir tak percaya, “—Lia!” katanya lirih.
Lia menundukkan kepala sambil melangkah menghampiri Dani. Dani hanya diam. Ingin rasanya ia hamburkan peluknya ke tubuh Lia, seperti dulu saat ia SMA. Namun buru-buru hati kecilnya menahan keinginan itu. Sejak ia menghafal Al-Qur’an ia tak pernah menyentuh wanita kecuali ibunya.
“Dan...,” Lia memanggil namanya tak seperti saat SMA duku. Biasanya Lia memanggilnya Sayang.
“Lia...,” jawab Dani.
“Assalamualaikum,” kata Lia. Ia sampai lupa mengucap salam karena gugupnya.
“Waalaikumussalam,” jawab Dani gemetar. Ia juga gugup.
“Kemana aja kamu, Lia?” lanjut Dani.
“Maafin aku Dan, aku gak pamit. Aku pergi mondok untuk memperdalam agama. Aku juga hafalan Al-Qur’an di sana.” Jawab Lia sambil terus menundukkan kepalanya. Ia benar-benar menjaga pandangannya.
“Yang benar?” tanya Dani sedikt tak percaya, namun sejenak rautnya memancarkan kebahagiaan. Lia mengangguk.
“Kamu masih punya rasa itu, rasa sewaktu kita SMA dulu?” Lia mengangguk lagi.
“Kamu?” Ganti Lia bertanya. Giliran Dani yang mengangguk. Lia tersenyum.
Tiba-tiba orang tua Dani menghampiri mereka.
“Lho, siapa ini, Le? Kok ayu!” tanya ibunya.
“Ini lho Bu, yang namanya Lia. Yang selalu aku critain di telepon biasanya. Ternyata dia pergi mondok.” Jawab Dani.
“Oalah, ini tho! Pantes saja anakku kesemsem sama kamu Nduk! Sampai-sampai dia nolak dijodohin sama pamannya.” Kata ibu Dani memuji.
“Ah, Ibu bisa saja. Maaf ya Bu, saya jadi ganggu pikiran anak Ibu.”
“Ah, nggak apa-apa Nduk kalau yang ganggu secantik kamu.”
Mereka pun tertawa bersama.
“Ya sudah Pak, ayo sekarang kita ke rumah Lia. Kita lamarkan anak kita.” Ajak ibu Dani.
“Ayo!” kata ayah Dani.
Kedua orang tua itu tampak kompak sekali melangkah menuju mobil mereka. Sedangkan Dani dan Lia sama-sama kebingungan. “Melamar?” batin Dani bahagia. Ia menatap Lia. Pandangan mereka bertemu. Mereka tersenyum bersama.


Ada Cinta di Ruang Osis



Waktu istirahat...
Setelah membasuh muka untuk menyegarkan mukanya, Sino lantas merebahkan badannya yang masih terasa pegal setelah semalam berjam-jam ia mengerjakan tugasnya. Baru sejenak ia melepas lelah, seseorang memanggilnya dari pintu kelas.
“Sino....” ternyata Pak Jo, sang pembina osis.
“Iya Pak,” sahut Sino sambil berdiri lantas menghampiri Pak Jo.
“Nanti setelah pulang sekolah jangan pulang dulu ya, ke ruang osis dulu sebentar.”
“Ngapain Pak?”
“ya kita rapat sebentar, tadi Dita sudah saya kasih tahu.”
“Oh, baik Pak!”
Berbicara tentang Dita, semenjak pertama ia menjabat menjadi ketua osis, bertemu dengan Dita, sang ketua osis putri sewaktu pelantikan dirinya dan Dita, Sino merasa ada yang berbeda saat pertama menatap  mata Dita. Pun saat-saat dia harus berdua dengan Dita di ruang osis untuk menyelesaikan tugas-tugas LPJ kegiatan osis.
Waktu pulang sekolah...
Setelah bel pulang berbunyi, Sino bergegas melangkah menuju ruang osis. Begitu sampai di ruang osis ternyata Dita sudah menungu.
“Sin....” Sapa dita.
“Dit....” Sahut Sino sambil tersenyum kaku seperti biasanya.
“Mana Pak Jo?” Tanya Dita.
“Gak tau, Dit,” jawab Sino sambil mengangkat bahunya.
Tak berselang lama Paak Jo memasuki ruangan. Rapat dimulai. Agenda siang ini ternyata membahas tentang pengabdian Sino dan Dita yang harus segera direformasi. Jabatan Sino sebagai ketua osis kini tinggal menghitung hari akan berakhir. Pertanggungjawabannya harus segera terpenuhi.
Setiap harinya, sepulang sekolah ia selalu harus ke ruang osis untuk menyelesaikan tugasnya yang masih tersisa bersama teman-teman osis yang lain.
Suatu ketika ia harus tinggal berdua saja dengan dita di ruang osis sampai siang. Saat Dita asyik di depan komputer, Sino pamit kepada Dita untuk keluar, “Dit, tunggu bentar ya!”
“Mau ke mana?”
“Udah, tunggu aja. Bentar kok! Ya?”
“Oke deh.”
Sino bergegas keluar dari ruang osis. Di depan terlihat Pak Jo tertidur pulas di sofa. Ia—Sino—melangkahkan kaki ke warung makan terdekat. Ia berniat membelikan Dita makan siang. Entah kenapa hari ini otaknya terasa encer untuk mencari cara menyenagkan hati Dita. Biasanya tidak pernah seperti ini. Cara bicaranya dengan Dita pun sudah tidak terlalu kaku seperti biasanya. Mungkin karena akhir-akhir ini ia sering bertemu dengan Dita, di ruang osis tentunya.
Tiga nasi bungkus sudah didapat. Satu untuk Pak jo, satu untuk Dita dan yang terakhir buat dirinya sendiri. Ia pun segera bergegas kembali ke kantor dan memasuki ruang osis.
“Dita,” panggil Sino sambil membuka pintu ruangan.
“Apa?”
“Makan yuk! Kamu lapar kan?”
“Emang ada makanan?”
“Nih, aku barusan beli tiga bungkus. Kita makan bareng Pak Jo, setelah itu kita pulang, dilanjutin besok aja. Udah capek! Gimana?”
“Iya deh, aku juga capek.”
Seusai makan bersama Pak Jo, mereka segera mengemasi barang-barang dan beranjak pulang.
“Biasanya kamu pulang bareng siapa?”
“Ya, kalau udah kesiangan gini biasanya sama temen-temen. Soalnya Ayah udah berangkat kerja jam satu siang. Pulangnya malam. Jadi gak bisa jemput.”
“Terus kalau teman-teman kamu gak ada kayak gini, gimana?”
“Naik taksi aja, Sin.”
“Gimana kalau aku anterin?”
Tidak biasanya Sino seberani ini, menawarkan jasa untuk mengantar pulang seorang gadis. Apalagi Dita, gadis yang selama ini ia kagumi.
“Kamu mau?” Sahut Dita. Spontan.
“Ya maulah,” jawab Sino, “Sekalian biar aku bisa tau rumah kamu.”
Akhirnya Sino pun membonceng Dita pulang. Sino benar-benar tak menyangka hari ini ia begitu beruntung bisa mengantar Dita pulang.
Sino tidak bisa lagi berbicara ketika tangan Dita memegang pinggangnya. Ia benar-benar tidak bisa konsentrasi mengendarai sepeda motor CB 100-nya. Ia hanya memacu kendaraannya 40 km/jam. Sampai akhirnya Dita yang mencoba mencairkan suasana kembali. Ketegangan Sino pun mencair dengan obrolan-obrolan yang asyik bersama Dita di sepanjang perjalanan.
Akhirnya sampai tujuan, rumah Dita. Tak lupa Sino meminta nomer hape Dita. Ya, meski mereka sudah kenal hampir setahun ini, ia belum punya nomernya Dita. Sebab Sino tak punya banyak nyali. Tapi berbeda dengan hari ini, entah kenapa ia merasa sangat berani.
***
Keesokan harinya, seperti biasa, di ruang osis, Sino sedang asyik menulis sesuatu di selembar kertas sambil melihat Dita yang kebetulan juga menulis diary. Tak berselang lama Dita keluar. Tiba-tiba Sino tertarik untuk membaca diary Dita yang dibiarkan tergeletak dan masih terbuka. Sino mendekat lantas membaca.
Dear diary!
Hari ini aku berduan lagi dengan Sino di ruang osis. Tapi sejak tadi dia cuma diam. Nggak seperti kemarin. Aku merasa aman begitu dekat dengannya. Kenapa baru kemarin dia bersikap begitu akrab dan perhatian padaku? Padahal sudah lama aku ingin merasakan selayaknya kejadian kemarin.
Sino tertegur membaca diary Dita yang benar-benar membuat hatinya berbunga-bunga. Kenapa baru sekarang ia tahu kalau ternyata Dita juga menyukainya. Tiba-tiba Dita memasuki ruangan. Sino terkejut. Ia salah tingkah dan bergegas keluar ruangan.
Melihat tingkah Sino yang tampak gugup, Ditta menjadi gingung. Ia melihat buku diarynya yang masih terbuka, jangan-jangan Sino membaca diaryku!
Dita benar-benar malu jika betul Sino telah membaca diarynya. Dita melangkah ke arah meja yang tadi dipakai Sino untuk menulis. Ada selembar kertas di sana. Apa salahnya jika aku membaca tulisan Sino, mungkin saja tadi dia juga membaca tulisanku. Batin Dita. Ia mengambil kertas tersebut dan mulai membaca tulisan di dalamnya.
Betapa sulit untukku menolak segala deburan yang mengguyur laut hatiku. Aku tak tahu sejak entah kapan perasaan ini bermula. Segalanya tiba begitu saja. Dan anehnya, aku baru menyadari bahwa perasaan itu  adalah cinta. Ya, cinta. Untukmu yang setahun ini kukenal; Dita...
“Sino...,” desah Dita yang gugup setelah membaca puisi Sino.
Baru selesai membaca tulisan Sino, tiba-tiba sang pemilik tulisan kembali memasuki ruangan. Dita semakin gugup , ia menyembunyikan tangannya yang masih memegang selembar puisi Sino. Ia menunduk. Sementara Sino menatap Dita curiga.
“Dit, apa salah jika aku dari dulu tak punya nyali untuk sekedar memberikanmu perhatian?” tanya Sino serius. Lagaknya seperti bintang FTV saja.
“Maksud kamu apa Sin?” Dita berbalik bertanya. Berpura-pura dalam kegugupannya.
“Sudahlah, aku sudah membaca diarymu, aku juga melihat kamu membaca tulisanku, kan? Apalagi yang mesti kita sembunyikan?” jawab Sino, suaranya gemetar. Ia benar-benar gugup. Begitu pula dengan Dita, ia tampak lebih gugup menahan malu.
“Kamu gak salah Sin,” sahut Dita. Menjawab pertanyaan Sino yang pertama, “Kamu gak salah kalau kamu gak punya nyali.”
Mereka berdua diam. Selang beberapa detik, Sino memberanikan diri untuk bertanya pada Dita, “Dit, kamu setuju gak kalau aku bilang ada cinta di ruang osis ini?”
“Cinta siapa?”
“Cinta kita, cintaku dan cintamu.”
“Aku setuju sih,” jawab Dita tersenyum. Mereka saling beradu mata. Lalu tertawa. Seketika ruang osis terasa begitu menjadi tempat yang romantis bagi mereka.
Di tengah kebahagiaan yang baru mereka rasakan, Sino menceletuk bertanya, “Jadi, kamu juga menyukaiku, Dit?
“Enggak...,” jawab Dita, lantas tertawa.
“Ah, kamu bikin aku gugup saja,” Sino ikutan tertawa.
Akhirnya mereka berdua tertawa bersama di dalam ruang osis yang penuh cinta.

KEMANA ARAH CINTAKU?



“Ben, kamu yakin gak pulang liburan besok?”
“Kayaknya gak deh mbak, aku lagi banyak tugas di sekolah, trus udah mau liburan sama temen kebali, emang kenapa mbak?”
“ya kan katanya riska mau liburan di jawa tahun ini “
“ah, yang bener mbak? Aduh.. kenapa gak bilang dri kemaren kemaren sih!”
“ya mana mbak tau ben, aku juga baru dikasih tau kemaren ama dia, mau bikin surprise kali buat kamu”
“ah mana mugkin, emang aku siapanya?, dia juga belu tau kalau aku suka samaa dia”
“tapi kalau mbak lihat lihat dulu waktu kamu ngajak dia maen kerumah, kayaknya dia juga ada rasa tuh sama kamu ben”
“itu kan dulu mbak, tapi samai sekarang pun aku masih belum berani ngungkapin perasaanku ke dia mbak,lagian juga aku kan gak tau dia udah unya seseorang apa belum di kalimantan”
“nah itu tuh kurangnya kamu ben, padahal menurut mbak  kamu tuh udah sempurna, tampang oke, penampilan juga keren tapi sayang kamu gak beranian kalau masalah ngungkapin perasaan. “
“udahlah mbak gak usah di bahas, aku jadi tambah pusing kalau gini”
“ya udah,sorii”
“udah dulu ya mbak jam istirahatnya udah hampir habis, aku belum makan”
“iya deh, cepet makan sana, daa ben sayang”
“daa”
kumatikan hp ku, jarang jarang mbakku mau telepon kalau gak ada yang penting, dan kali ini memang penting bagiku. Riska, gadis yang ku suka semenja aku SMP ketika dulu aku masih satu  sekolah dengan dia di jawa tengah. Memang sejak lulus SMP dia ikut orang tuanya kekalimantan. Dan semenjak itu aku tak pernah lagi bertemu dengannya. Dan sekarang, begitu ada kesempatan bertemu dengannya aku yang malah tak bisa pulang kejawa tengah, sekarang aku sekolah di jawa timur,- daerah banyuwangi tepatnya- di karenakan banyaknya tugas di sekolah yang membuatku mengisi liburan dengan tugas tugas yang menumpuk, lagi pula aku tak enak hati membatalkan rencanaku liburan bersama teman teman. Saat nanti aku pulang pada saat libur hari raya sudah dipastikan riska sudah kembali  ke kalimantan.
“Heh, kok bengong” Dina mengagetkanku.
”oh kamu din, bikin kaget saja kamu”
“udah makan belum? Makan yuk !” ajak dina sambil menyeret tanganku tanpa menunggu jawabanku.
Waktu dikantin pun aku tak begitu nafsu makan.wajah riska kembali lekat dalam ingatanku. Aku sendiri bingung harus bagaimana, sebenarnya ini kesempatanku brtemu dengannya. Aku sangat merindukannya.
”Ben, dari tadi kok bengong mulu sih, ada apa? Cerita dong.” Dina kembali membuyarkan lamunanku.
”oh, gak papa kok din, ayo makan dulu, jam istirahatnya udah hampir habis.
“hmmm…” Dina mengangguk sambil mengunyah makanan dimulutnya.
***

Setelah pembagian raport selesai,liburan pun tiba.suatu hal yang palin di tunggu tunggu bagi para pelajar tentunya. Mereka dapat berleha leha setelah satu semester penuh mereka dipenuhi aktifitas aktifitas yang melelahkan. Aku pun begitu, segera saja tugas tugas yang masih belu terselesaikan ku kerjakan semuanya, setelahnya berlibur ke bali bersama teman teman. Namun dihari hariu hanya Riska yng memenuhi hari hariku. Dari dulu aku tak bisa melupakan wajah manis gadis itu.sekarang begitu ia dijawa, aku merasakan dia begitu dekat.
lihatlah luka ini, yang sakitnya abadi, masih berbalut hangat bekas pelukmu….
kudengar ringtone hp ku berbunyi, private number. Langsung saja ku angkat.
“Halo”
“Halo ben, lagi ngapain? Sibuk nggak.” Ternyata dina yang menelpon.
“Nggak ngapa-ngapain, nganggur nih, kenapa?”
“jalan yuk, aku bosen nih dirumah.”
“aduh din, aku capek banget. Kemaren juga baru datang habis liburan sama teman teman”
“yaah ben, plis! Sekali ini aja“
“sori din, aku gak bisa”
“gimana kalau aku kekosan kamu aja, boleh kan?”
“terserah deh”
“ya udah, bentar lagi aku kesitu ya, dada ben”
“ daa “
Hah, begitulah dina, ia selalu bersiap manja kepadaku. Seolah olah aku orang istimewa dalam hidupnya. Aku mengerti, sebenarnya dia suka kepadaku. Tapi sungguh, aku belum bisa benar benar melupakan Riska. Aku masih selalu penasaran pada gadis itu. Namun ya tetap saja aku tak berani engungkapkannya bila sudah di depannya. Selang seperempat jam Dina datang.
“assalamalaikum, Ben!”
“waalaikumsalam”sahutku malas sambil membuka pintu kos kosan.
”kita bicara diluar aja ya din, gak enak sama tetangga kalau kita bicara didalam”
“iya deh, asal bareng kamu, hehe” jawab Dina sambil tersenyum manis.
Sekitar seperempat jam kami berbicara. Kami sudah kehabisan topik buat di obrolin. Kami saling diam beberapa saat.
“Ben,kamu pernah keikir gak kalau ada orang yang kasih perhatian lebih disekitar kamu”
Aku terkejut. Aku paham maksudnya, tapi aku berpura pura tak mengerti. Aku hanya mengernyitkan dahi tanpa menoleh ke arah dina.
“Nggak tuh, emang ada?”
“kamu sih terlalu cuek, tapi masak sih kamu beneran gak ngrasa?” Dina semakin memancing.
“enggak.” Jawabku singkat.
“ben kamu tuh pasif banget sih,kamu tuh laki laki ben, masak sih kamu tuh gak pernah ngerasa perhatian yang selama ini udah aku kasih lebih kekamu.tapi selama ini kamu juga seolah ngasih harapan ke aku, aku binging dengan sikap kamu ben. Aku Cuma mau bilang kalau aku sayang kamu.”
Aku terpaku mendengar rentetan kalimat yang keluar dari mulut Dina yang seolah olah menghujaniku dengan peluru peluru timah panas.
“Ben, jangan diam. Tolong kasih aku kejelasan. Sudah cukup lama kamu diam dengan sikap pasifmu.”
“aku bingung Din,aku benar benar ingung dan gak tau harus gimana lagi. Aku masih mencintai seseorang.”
“Jadi selama ini kamu udah punya seseorang, lalu untuk apa selama ini kam beri aku harapan dan gak pernah bilang kalau kamu sudah punya seseorang. Tau begini aku  takkan berharap lebih kekamu ben. Atau jangan jangan kamu sengaja mempermainkan aku.”
Aku tak bisa menghentikan Dina yang terlanjur nyerocos begini. Para tetangga yang lewat pun spontan menoleh ke arah kami sambil menggeleng geleng kan kepala mereka. Aku malu, kusandarkan kepalaku pada tangan yang ku tumpukan dikursi. Setelah para tetangga itu pergi, aku baru angkat bicara.
“Bukannya begitu Din, tapi..”
“Cukup ben, kamu sudah sakitin aku”
Dina berlari sambil membawa tetes tetes matanya.
“Din, tunggu ..” kataku setengah berteriak.
Aku enggan beranjak dari tempat dudukku. Aku malu jika harus mengejarnya. Aku kasihan padanya, namun sungguh benar, cintaku hanya pada Riska. Aku pun masuk kedalam kos,baru saja aku menutup pintu hp ku sudah berdering lagi.
“Halo”
“Ben,ini mbak. Waduh ben, ada kabar nggak baik nih dari riska.”
“Kabar apaan mbak?” tanyaku tak sabar.
“sekarang dia di ajak pergi jalan jalan sama Aldo, kakak sepupumu yang mirip kamu itu lo. Dan parahnya lagi kayaknya Riska mau.”
DEG!
Darahku serasa berhenti mengalir, jantung berhenti berdetak, nadi serasa berhenti berdenyut. Ada hubungan apa mereka? Aku tau riska takkan mau di ajak jalan kecuali dengan orang orang spesialnya. Ku matikan hp ku. Aku terduduk memegangi kepala sembari mengacak-ngacak rambutnya, sekarang aku benar benar terpojok oleh situasi cinta yang rumit. Begitu cepatnya masalah masalah menghantamku. Aku bertanya tanya, kemana sebenarnya arah cintaku? Entahlah, aku benar benar tak tau bagaimana aku menjalani misteri episode episode  kehidupanku besok.

Pembantaian manusia serigala

(sebuah ilusi imajinasi mimpi)

  Jauh sebelum pertengahan abad ke tujuh belas, sebelum para penjajah menginjakkan kaki di indonesia. Di ujung timur selatan pulau jawa hiduplah sekelompok suku pemburu. mereka berburu apa saja. harimau, kijang, gajah juga rusa jika ada. apabila nampaknya enak untuk dimakan maka mereka makan, jika tidak maka kulit atau bulu bulu hewan tersebut akan mereka jadikan pernak pernik. Namun hari hari terahir ini tak begitu banyak hewan hewan besar yang terlihat, kijang atau rusa yang biasanya mereka jadikan santapan pun sudah sangat jarang terlihat, apakah mereka semua sudah punah karena terlalu sering diburu? sudah lima hari ini mereka tidak makan, mereka sudah sangat kelaparan. melihat banyak serigala serigala yang tampaknya tak berkurang populasinya, bahkan nampaknya malah bertambah seorang kepala suku pun memanah seekor serigala untuk diberikan kepada anak anak nya yang sudah kelaparan. ia mengolah serigala itu sebisa mungkin agar menjadi makanan yang lezat. dan tak disangka ternyata anak anaknya sangat lahap memakan daging serigala tersebut.
***
ketika malam hari semakin larut, saat semua orang terpulas. serigala mengaung bersahutan disekitar pemukiman mereka. mendengar itu sang kepala suku tak bisa tidur, ia berfirasat buruk. ahirnya ia memutuskan keluar untuk melihat keadaan sekitar, namun ia sangat terkejut ketika melihat banyak serigala dengan mata menyala  dan air liur yang mentes dari mulut mereka yang mengepung pemukimannya. ia pun berteiak hu ha hu ha sambil memukul mukulkan tongkatnya ketanah,semua anggota suku segera keluar mendengar pertanda bahaya itu. sang kepala suku menjelaskan bahwa ia telah membunuh satu diantara serigala serigala itu siang tadi, dan kemungkinan mereka serigala serigala itu ingin menuntut. tak perlu waktu lama serigala serigala itu berlari ke arah mereka seakan siap untuk menerkam mereka satu persatu. spontan saja mereka kalang kabut menerima serangan dadakan itu. dengan menggunakan senjata seadanya mereka melawan serigala serigala itu, anak anak kecil berlarian. serigala serigala tersebut benar benar kuat, tak layaknya serigala pada umumnya. setelah beberapa lama mereka semua bertarung banyak orang dari suku tersebut yang tewas mengenaskan, sang kepala suku pun tewas. namun serigala serigala pun juga banyak yang mati. sebagian berhasil melarikan diri.
***
selang beberapa hari setelah kejadian itu, suku tersebut mengadakan pesta pengangkatan kepala suku baru dengan menggunakan bangkai bangkai serigala tersebut sebagai santapan mereka. jauh dari situ anak kepala suku pertama merenung sendiri, ia sedih karena teringat ayahnya. saat seperti itu ia mendengar anak seigala yang sedang kesakitan di balik semak semak. ia menghampirinya dan terlihat seorang anak serigala yang terluka kakinya , segera saja ia mencari dedaunan untuk dijadikan ramuan untuk mengobati serigala tersebut. sedangkan saat para suku sedang asiknya berpesta pora tiba tiba saja sekawanan serigala menyerang mereka, mereka dibantai habis habisan sampai semuanya tewas mengenaskan.serigala serigala itu masih saja berputar putar disekitar pemukiman suku tersebut sambil mengendus ngendus seperti mencari sesuatu. begitu melihat sang anak kepala suku kembali serigala serigala itu langsung saja mereka siap menerkam bocah kecil tersebut,namun begitu melihat anak serigala kecil dipelukannya mereka mengurungkan niatnya. anak kecil itu terkejut begitu meihat banyak orang orang sukunya sudah tergeletak tewas. ia langsung saja melepas anak serigala tersebut dari pelukannya. ia menangis sejadinya karena semua orang telah tewas dibantai serigala serigala itu. tiba tiba saja serigala serigala itu berubah wujud menjadi manusia, begitupun serigala kecil yang ditolongnya tadi. ternyata mereka semua adalah manusia manusia setengah serigala, mereka mengatakan bahwa serigala yang dibunuh ayahnya dan yang dimakannya adalah istri seorang raja manusia serigala.pantas saja jika mereka semua membalas dendam dengan membantai seluruh anggota suku, namun karena anak kecil itu berbaik hati telah menolong serigala kecil yang ternyata adalah putra dari raja manusia serigala tersebut ia di ajak untuk ikut hidup bersama dengan manusia manusia serigala tersebut.
***
kelak jika anak itu sudah dewas ia akan mengerti apa yang sedang terjadi dihadapannya sekarang, dan pasti ia kan memahami arti kata sebuah dendam. dendam ayahnya yang telah dibunuh secara mengenaskan oleh serigala serigala tersebut. pembantaian masih belum berhenti selagi masih ada dendam dan kebencian. pembantaian masih terus berlanjut, hingga kini yang terjadi diantara manusia manusia yang berhati serigala.