Tampilkan postingan dengan label sajak dan puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sajak dan puisi. Tampilkan semua postingan

Bagaimana bisa?


Bagaimana bisa?
Kalian suruh aku karena dosa menangis sedang kalian tetap meringis tipis
Kalian suruh kami berhenti berzina sedang simpanan kalian dimana-mana
Kalian perintah kami berhenti menenggak khamar sedang kalian biarkan mereka menghukuminya samar-samar
Bagaimana bisa?
Kalian suruh kami berhenti bertikai sedang kalian yang lebih dulu angkat kaki tuk bercerai
Kalian bubarkan demonstran dengan kekerasan sedang biaya mereka dari kalian
Kalian hukum bertahun-tahun pencuri coklat sedang kalian terus membesarkan perut-perut tikus rakyat
Bagaimana bisa?
Kalian teriakkan jihad sedang kalian jarang salat
Kalian panjang lebarkan khotbah sedang kalian mengabaikan sedekah
Kalian hancurkan tempat yang kalian bilang sarang maksiat sedang kepada merekatak pernah sekalipun kalian member nasihat
Bagaimana bisa?
Pemimpin-pemimpin kita mau kritis kalau mereka berasal dari artis yang biasa hidup praktis
Bagaimana bisa?
Kita hentikan perdagangan senjata kalau mereka-mereka adalah ahli kudeta dan selalu menyelesaikan masalah dengan senjata
Mereka berharap wibawa tanpa jasa hanya membanggakan ningrat saja
Lalu, Bagaimana bisa?
Kalian bilang aku acak-acakan sedang kalian tak tau arti kepribadian
Kalian bilang aku tak rapi sedang kalian terus memandangku tanpa tapi
Kalian bilang aku tak berpendirian kalian sendiri plin plan
Maka, atas itu semua aku nyatakan aku berbebas diri dari kalian dan semua tentang kalian
Detik ini aku proklamasikan kemerdekaanku dari jajahan kalian
Bagaimana bisa?
Aku tak berontak hidup dalam aturan orang-orang yang tak teratur
Bagaimana bisa?

Kun! fa-ya-kuun


Kun! 
 
Terlafadkan sejak azali

Mencipta sesuatu untuk jadi

Mengada yang tiada

Awal dari segala

Fayakuun!

Proses perwujudan yang wujud

Jalan ketiadaan menuju ada

Perjalanan sebuah kemungkinan

Semoga tentang kita telah di kun-kan sejak azali

Dan saatnya fa-ya-kuun ...

Maka, kun-lah kita dalam wujud yang tetap

Semangkuk Baso Cinta

Senjakala menutup harinya

Sepasang kekasih asyik duduk berdua

Semeja tapi tak semeja

Semangkuk baso di hadapan mereka

Malu pada orang tua yangduduk di dimuka diam saja

Isyarat tubuh asik saja berdua mesra

Semangkuk baso untuk berdua

Dua mangkuk baso sejiwa

Semangkuk baso cinta

Ayo dihabiskan, sayang!

Seandainya


Seandainya ....

Jika ....
Kalau saja ....
Bila ....
Andai saja ....
Seumpama ....

Sajak Cinta Ajurumi (Revisi)


Cintaku padamu layaknya kalam para nuhat
Yang memenuhi syarat-syarat lafad mufid musnad
Telah kusampaikan lafad cintaku padamu
Pun sudah mufid bagimu
Yang telah ku musnadkan kepadamu
Kalimat cintaku ialah lafad mufid yang mufrod padamu
Fiilku adalah mencintaimu
Isimku adalah yang terkasih bagimu
Kemudian hurufku ialah mengaliri darahmu dengan kasihku
Itulah kalim cintaku
Qoulku adalah berfaidah mutlak. Mencintaimu.
Cintaku luhur bagaikan dummah rofa’
Kasihku ialah bagi nasob yang tegak
Cintaku mampu menghofadkan segala yang merintang
Tunduk bersimpuh bagai kasroh
Kasihku jazem bagimu
Akulah pema’rifat nakirohmu
Yang menyimpan dhomir untukmu
Yang menjadi alam bagi jasadmu
Wujudku adalah isyarah akan wujudmu
Akulah yang menjadi silah mausulmu menuju cinta yang hakiki
Aku dan kau adalah al ta’rif yang tak terpisahkan
Aku dan kau adalah susunan idofah yang saling melengkapi
Kita seperti fi’il fail yang
Fiilku adalah mencintaimu
Pada zaman madzi hal ataupun mustaqbal
Tak ada tempat bagi naibul fail untuk menggantikan kefiilanku
Aku dan kau adalah mubtada’ khobar abadi
Kau bukanlah nawasih sughra halnya kana ataupun inna dan saudara-saudaranya
Kau ialah nawasih kubro layajnya dhonna dan kawan-kawannya
Kau adalah tabi’ matbu’ku
Keterikatan kita bagaikan athof dan ma’thufnya
Keterkaitan kita ialah seperti na’at man’ut
Keyakinan kita ialah taukid pada muakkadnya
Aku dan kau adalah badal dan mubdal minh
Kau adalah maf’ul fiilku
Kau adalah masdar dariku
Kau adalah zaman makan dhorofku
Kau adalah sohibul hal hal cintaku
Kau adalah tamyiz bilangan cintaku yang tak terbilang
Istisna cintaku adalah kematian
Dengan ya munada ku panggil kau kasih
Dengan maf’ul li ajlih aku dating untukmu
Dengan maf’ul ma’ah kurengkuh jiwa dan ruhmu
Dengan segenap huruf hofad
Kita kasrohkan segala yang merintang
Bersimpuh sujud tak berkutik
Dan jadilah kita idhofy yang tak terpisahkan

Hidup teka-teki silang

Hidup memang begini

Membosankan bukan ?

Inilah hidup dengan sejuta kotak teka-teki silang

Dari yang menurun sampai yang mendatar

Masih banyak kotak-kotak kosong
 
Yang harus diisi dengan 

Huruf-huruf dari pernyatan-pernyataan

Yang sudah digariskan sejak jaman azali

Pada diniding-dinding lauh mahfuz

Kelak teka-teki silang kita akan di pertanyakan.

Sahabat Lama

   Bundar bundar masa tak kan pernah mengerti

bahkan butir butirnya


tentang kisah yang berhembus beberapa musim yang lalu


kisah kisah lucu para humoris


langkah langkah para pengais


tangis para pengemis


pemberontakan pemberontakan sang legendaris


mimpi mimpi cikal bakal pewaris


dulu kita kecil pernah bermimpi


sekarang pun tak layak disebut dewasa kita bermimpi


namun masa memang benar benar takkan mengerti


meski sudah saja kian tua hampir mati


tentang nyaman yang nyenyak dihati hitam kita


setelah sekian lama


setelah dulu dan yang lalu

datanglah sekarang


dan adakah sudimu


aku memanggilmu sahabat


sahabat yang tlah lama tak ku temu


sahabat yang tlah lama tak ku jamu








Maulud

Bulan maulud lahir si maulud
Yang orang sekitarku bilang bulan mulud
Lahir saat dunia kalut
Oleh kejahilan yang diwariskan raja namrud
Saat sekian jengkal tanah masih manyun
Oleh kesombongan raja fir’aun
Yang lenyap bersama qarun
Maulud maulud !
Solawat salam atas dirimu memekik tinggi indah merdu
Dari mahluk yang tak tau menau tantang rindu
Kepadamu
Menembus arasy terus melaju
Menggoyaahkan singgasana-Nya
Maulud maulud!
Bagai pasir pantai yang merindu samudra hanya menunggu ombak yang membawa
Bagai rumput yang harap menyentuh langit tak mudah tuk tak terinjak sakit
Jisim hina ini berdarah hitam menuju putih nur mu
Maulud maulud!
Disini dan semua ummat menyeru
Solawat salam atasmu
Maulud maulud!
Yaa dzal mauhibat!
Yaa sohibul mu’jizat!
Rahmat takdzim ila badra taman!

Cari Mati



Tak ada lagi mereka disini

Hilang pula bulan dan matahari

Kemana pula si pelangi?

Setelah hujan menjauh pergi tak kembali?

Tak ada lagi mereka disisni

Apa semua harus pergi?

Tak ada lagi pekik tinggi

Hilang dibadali sepi

Tanya tanya coba mentaukidi

Gelisah hati yang kian tak temu titik tepi

Tinggal sepi
 
Kalau sudah begini

Lekas cepat cari mati

Nguber Bromo


            Temaram malam hanya diam
            Tetap bungkam
            Tak jua turun secuil ilham
            Tuk segera meredam
            Tentang kebingungan
            Yang bahkan layaknya gelandangan
            Rebut hanya karena secuil pangan
            Haha, kawan kawan
            Katanya mau menjelajah alam
            Baru sampai disini kok sudah bikin acara buat bikin muram
            Sudah sudah
            Buang semua penat dan lelah
            Juga semua salah dan bersalah
            Besok kita masih harus menjelajah
Bayuangga, probolinggo. 16 november 2012
–saat cekcok gara gara dua bungkus nasi-

            Perjalanan kami belum terhenti
            Masih bnayak langkah menanti
            Masih banyak bumi yang belum kami pijak
            Banyak bintang yang belum kami sapa
            Banyak udara yang masih harus terhirup
            Setelah semalam, kami beranjak dewasa
Probolinggo, 17 november 2012
-saat fajar memaksa kami bangun-

            Segenggam merah temani pekat hitam
            Sekabut api iringi ribu kabut malam
            Beruntung kita makam ini kawan
            Karena besok kita nasih bias bersama melihat awan
            Karena ada orang-orang ini kan?  
Yang semuanya baikan
Di ujung bromo sana kita dakikan mimpi kita
Dilangit begitu juga kita gantung cita
Besok kita kan mendaki, menjadi pendaki
Sampai lelah seluruh kaki
Hari selanjutnya cita kan kita dapati
Kawasan wisata bromo, 17 november 2012
-saat menatap bromo malam hari, bersama orang-orang yang memberi kami satu makna bahwa “semua itu tak bisa tercapai bila hanya didasarkan pada ambisi muda”-

            Kita sampai kawan
            Tak sia sia kita gak tidur semalam kan?
            Sampai !
            Dipuncak tertinggi kawah bromo
            Puncak yang baru kemarin kita impikan
            Lihatlah kita bisa!
            Mimpi kita tlah sampai
Puncak kawah bromo, 18 november 2012
-saat sang pemimpi mulai meraihnya-