Dalam
sehari, kita nggak mungkin melewatkan
satu kegiatan yang namanya tidur. Ya, tidur. Namun sudahkah tidur kita bernilai
ibadah? Atau bahkan malah tak bernilai alias sia-sia? Nah, ada baiknya
kita pelajari tidur ala ulama salaf. Lebih baik lagi jika
kita bisa mengamalkannya.
Imam
Ghozaly dalam kitab Bidayatul
Hidayah-nya menuturkan tentang
hal-hal yang baik dan patut
kita amalkan sebelum dan saat tidur. Hal-hal
tersebut ada delapan, antara lain:
1. Sebelum kita tidur,
pastikan kita menggelar alas tidur menghadap ke arah kiblat, dan
pastikan juga kita tidur pada posisi menghadap kiblat. Ada dua cara atau bentuk
posisi orang yang tidur menghadap kiblat. Pertama, tidur telentang dan
kepala dihadapkan ke kiblat. Yang ke dua, seluruh badan dan wajah dihadapkan
ke arah
kiblat, layaknya posisi mayit di dalam kubur.
2.
Mengingat-ingat –atau lebih tepatnya tafakkur, bahwa tidur adalah perumpaan
dari mati, dan bangun dari tidur adalah sebuah contoh akan adanya hari
berbangkit, yakni hari kiamat.
3. Harus dalam keadaan
suci, siapa
tahu Allah mencabut nyawa
kita pada saat tidur. Siapa yang tau? Oleh
sebab itu kita harus bersiap-siap
untuk bertemu Allah. Salah satunya ialah dengan tidur dalam keadaan suci.
4. Meletakkan wasiat di bawah bantal. Nah,
jarang banget nih ada yang mengamalkan yang
nomor empat nih –malah
nggak ada kayaknya. Untuk apa hal ini disarankan? Hal ini dilakukan untuk
antisipasi, siapa tahu
Allah tak lagi membangunkan kita. Kenapa juga harus wasiat yang ditekankan?
Karena ada sebuah maqola
“ Orang yang mati tanpa
meninggalkan wasiat, maka ia tak akan bisa bicara di alam barzakh kelak.”
5. Dalam keadaan bertaubat,
memohon ampunan kepada Allah dan berjanji untuk tidak lagi mengulang dosa-dosa yang telah dilakukan.
Rasulullah SAW bersabda: “Barang
siapa yang ketika menuju tempat tidurnya mengucap:
“Astaghfirullah al adzim alladzi la ilaha illa huwal al
hayyul qayyumu wa atubu ilaih”
Tiga kali maka Allah akan mengampuni
dosa-dosanya.”
6. Tidak tidur dengan
menggunakan alas tidur yang halus dan nyaman, seperti kasur, spring bed dll.
Karena hal itu akan menyebabkan seseorang malas untuk bangun. Sebab berlama-lama tidur adalah
perbuatan yang sia-sia.
Kecuali jika bangun hanyalah membawa mudorot, membawa keburukan dan berbuat
maksiat, maka tidur lebih baik dari pada bangun.
Imam Ghozaly berkata: “Ketahuilah, bahwa
sesungguhnya dalam sehari semalam terdapat 24 jam, maka cukuplah bagimu delapan
jam sehari untuk tidur. Jika
kamu hidup dalam enam puluh tahun, maka sungguh kau telah menyianyiakan satu
per tiga hidupmu –20
tahun untuk tidur.”
Bagaimana dengan kita?
Apa cukup delapan jam bagi
kita? Mari introspeksi
diri masing-masing!
7. Persiapkan siwak dan air
suci untuk bersuci ketika bangun nanti. Berniatlah untuk mendirikan shalat malam atau bangun
sebelum subuh.
8. Baca do’a sebelum tidur,
berikut do’a yang di anjurkan Imam Ghozaly:
“Bismika
robbi wadho’tu janbi wa bismika arfa’hu faghfirli dzanbi. Allahumma qini
‘adzaabaka yauma tab’atsu ‘ibaadaka. Allahumma
bismika ahya wa amuut wa a’udzubika. Allahumma
min syarri kulli dzii syarrin wa min syarri kulli daabbatin anta aakhidzu
binaasiatiha anna robbi ‘ala shiraatin mustaqiim. Allahumma anta al-awwalu
falaisa qoblaka syaiun wa anta al-akhiru falaisa ba’daka syaiun wa anta
dzohirun falaisa fauqoka syaiun wa anta al-baathinu falaisa duunaka syaiun aqdhi
‘anni ad-daina wa aghnini minal faqiiri.
Allahumma anta kholaqta nafsi wa anta tatawaffaha laka
mamaataha wa mahyaaha in amaataha faghfir laha wa in ahyaytaha faghfidh ha
bimaa tahfidhu bihi ‘ibaadaka as-shoolihin. Allahumma inni
asaluka al ‘afwa wa al-aafiyah fiddiini wa addunya wa al aakhiroh. Allahumma
ayqidzni fii ahabbi assaa’ati ilaika wasta’milni bi ahabbil a’maali ilaika
litaqorrobani ilaika zulfa wa taba’adni ‘an sukhtika bu’dan as aluka fata’thini
wa astaghfiruka fataghfirli wa ad’uuka fatastajiibu li”
Kemudian membaca ayat kursi,
dan “Amanarrasulu... ila akhirihi,” lalu
Surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas dan Tabarok. Barang
siapa yang sanggup mengamalkan hal-hal di atas, maka ruhnya akan diangkat ke
arsy dan dicatat layaknya orang yang shalat
sampai bangun. Sebanyak itu? Apa mungkin melakukan itu semua sebelum tidur? Kapan tidurnya kalau
amalanya sebanyak itu? Seperti menjawab keluh kesah kita semua, tinta Imam
Ghozaly terus menggoreskan ilmu hikmahnya.
Ia berkata: Jika
kamu merasa berat untuk mengamalkan apa yang telah kuajarkan, maka bersabarlah seperti
sabarnya orang sakit yang meminum obat yang pahit secara kontinu atau terus
menerus dalam menunggu sehatnya. Berpikirlah
kamu tentang umurmu yang pendek. Jika kamu hidup dalam masa seratus tahun,
sungguh itu sangatlah sedikit jika dibandingkan dengan kehidupan di akherat kelak. Renungkanlah, bagaimana bisa kamu menanggung beban yang
berat serta kehinaan dalam mencari sesuatu yang duniawi; dalam jangka sebulan,
setahun atau lebih.Yang mana itu semua kau lakukan dengan harapan kelak kau
bisa beristirahat dan menikmati hari tua yang tinggal sedikit, maka bagaimana
mungkin kamu tak mau menanggung beban dan kehinaan di sisa umurmu yang sedikit untuk
berharap istirahat yang abadi, selama-lamanya. Sudah,
jangan kau perpanjang lagi renunganmu, karena
itu akan membuat kau semakin berat, sungguh maut sudah dekat. Katakan dalam hatimu: “Sungguh, aku menanggung
beban berat hari ini. Namun
siapa tahu aku mati hari ini,
dan sungguh aku memang menanggung beban berat malam ini. Dan aku bersabar malam ini. Siapa
tahu esok hari aku akan
mati.” Karena sungguh, maut tak
akan datang pada waktu, keadaan dan umur tertentu dan datangnya mati tak dapat
dielak lagi. Maka
pada intinya bersiap-siap
untuk menghadapi mati itu lebih baik dari pada bersiap-siap menghadapi
tantangan dunia. Sesungguhnya, kau sudah tau kalau tak ada yang abadi.
Imam
Ghozaly melanjutkan fatwanya: “Jika kamu sanggup
melakukan itu semua maka kamu akan merasakan kebahagiaan yang abadi, yang tak
berakhir. Namun jika kamu menunda-nunda
dan meremehkan, maka maut akan datang
tanpa disangka-sangka
dan kamu akan menyesal untuk selamanya.”
Nah
sobat, itu semua adalah pesan Imam
Ghozaly dalam kitab Bidayatul
Hidayah-nya.
Satu kesimpulan yang harus kita ambil, bahwa sebenarnya tidur adalah sebuah
contoh nyata dari mati, dan seharusnya tidur adalah hal yang menakutkan, karena tidur adalah salah satu
contoh dari dzikrul maut yang
kongkrit. Sudahkah
kita mempersiapkan bekal kita
untuk menghadapi maut? Mari kita introspeksi diri masing
masing. Sejauh mana usaha kita untuk mendapatkan kebahagiaan uang kekal. Semoga
kita termasuk orang orang yang mempunyai bekal cukup untuk menghadap tuhan. Dan tentu kita berharap,
kelak kita akan mendapatkan khusnul khotimah. Amin ya Robbal ‘Alamin.
Oleh: Ahmad
Syahdan Asmara
Referensi: Bidayatul Hidayah
Referensi: Bidayatul Hidayah
0 komentar:
Posting Komentar